Selasa, 07 Januari 2014

Syahroni Cegah Bupati Buyar Terabas Pesanggrahan Jokosangkrib



Obesi kades baru Tunjungseto Kecamatan Kutowinangun Kabupaten Kebumen, Syahroni, ingin menjadikan Bulupitu sebagai tempat wisata alam hutan lindung dan tanaman langka. “Di sana juga bisa dijadikan tepat outbond dan area perkemahan. Selama ini banyak pohon besar di hutan Bulupitu ditebangi, padahal itu pohon berharga. Kondisi Tunjungeto sekarang sedang prihatin,” kata Syahroni yang baru menjabat 2 Agustus 2013 ini.
Syahroni dan penghargaan PBB
Pada awal Januari 2014 dia menerima penghargaa dari Bupati Kebumen Buyar Winarso karena masuk lima kades di Kecamatan Kutowinangun tercepat dalam pelunasan pajak bumi dan bangunan (PBB). Setoran PBB dari desa dengan angka kemiskinan 68% warga RTM (rumah tangga miskin) dari total 449 KK  dengan 1.728 jiwa itu sebesar Rp 26 juta.
Syahroni punya visi,  bersama rakyat Tunjungseto kita ciptakan tata titi tentrem kartaraharja. Maka untuk membangun desa dia hanya bisa berharap dari program pemerintah pusat MP3KI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia). Sudah diusulkannya perbaikan  jalan tembus Bulupitu – Kaliputih, dan jalan tembus antar-kecamatan Tunjungseto-Tanjungmeru.
Keinginannya menjadikan hutan Bulupitu sebagai tempat wisata akan coba disinkronkan dengan rencana membuka akses jalan terabasan dari Bulupitu bisa tembus ke tempat wisata Jembangan di Kecamatan Poncowarno. Ini sudah ada perintisan jalur “trabas track” komunitas motor trail saat peringatan Hari Jadi Kabupaten Kebumen 1 Januari 2014 lalu melintasi kawasan Bulupitu.
Ada pengalaman menarik, saat para tracker hendak menerabas hutan Bulupitu melewati samping pesanggrahan Joko Sangkrib. Syahroni pasang badan melarang rombongan pengemudi motor trail menerabas tempat yang dikeramatkan masyarakat setempat. “Saya cegat, karena tidak rela mereka melintasi pesanggrahan,” kisahnya.
Bupati Buyar Winarso yang ada dalam rombongan itu terpaksa bernegosiasi dengan Syahroni. Rute lalu diarahkan menerabas tanah tegalan bengkok kades. Tapi justru dengan jalur dadakan itu peserta malah merasa tertantang. “Ke depan jalur itu mungkin malah bisa menarik minat peserta tracking,” ujar Syahroni. Pada petualangan terabas track lalu dari Desa Rawareja tembus ke Bulupitu, Kaliputih, Pesalakan, Karangsari,  terus ke objek wisata Jembangan di bendung Pejengkolan.
Syahroni sadar, untuk membangun desanya hanya bisa mengandalkan program dari pemerintah pusat. Seperti dari PNPM Mandiri Perdesaan, tahun 2014 sudah mengusulkan pembangunan gedung PAUD untuk Play Group Mawar Merah. Balaidesa juga perlu dirombak dari dana ADD. Pada 2013 ada perbaikan saluran irigasi tersier. Musim tanam saat ini Dinas Pertanian membantu benih situbagendis dan pupuk Petroganik di 0,5 hekatar sawah bengkok kades.
Sosialisasi undang-undang desa yang diikutinya di Hotel Candisari pada September 2013 selama 4 hari, telah memberinya kepercayaan era otonomi desa memberikan kades hak prerogratif. “Jika ada ruwet renteng, kades punya hak prerogratif,” katanya. Karena itu ia juga menyiapkan ponselnya di nomor 087848339071 untuk menerima SMS keluhan warga. Pada musrenbang kecamatan Desember lalu Tunjungseto mengajukan bantuan mesin traktor, pugar  rumah, dan talud jalan ke Tanjungmeru. (Kholid Anwar)

Senin, 06 Januari 2014

Kiai Sonhaji, Gus Dur, Alisa Wahid dan Kang Tajib

Akhir Desember 2013 putri sulung Gus Dur, Alisa Wahid, mampir ke kediaman Kang Tajib penggerak Gusdurian di Kebumen. Di sana Mbak Alisa sama sekali tak memperlihatkan kalau dia seorang putri Presiden ke-4 RI. Ini mungkin karena terbawa suasana "istana" Kang Tajib yang siang itu Muinatul Khoiriyah (Mbak Iin) istri Kang Tajib menyuguhkan menu makan siang pecel lele dan pete. 
   Di tengah lesehan sekitar 10 orang a-la Indipt, percakapan "ngalor-ngidul" tetap berlangsung hangat. Biasa, ngrasani elite di Jakarta itu menjadi pembicaraan menarik. Apakah Pak Mahfudz MD serius nyalon presiden, dan apakah komitmennya pada nilai-nilai Gusdurian masih konsisten. Mbak Alisa menilai Pak Mahfudz itu orangnya baik. Sayangnya orang-orang yang mendukung itu terlihat tidak kompak. Memang sulit menjelaskan, dan sangat rumit untuk mengurai mengapa pendukung Pak Mahfudz tidak kompak.
   Toh siang itu tidak diacarakan diskusi membahas soal copras capres, karena di mushala Desa Kembaran, 50 meter selatan rumah Kang Tajib, sudah menunggu sekitar 50 warga sekitar dan para Gusdurian dari lintas agama dan kelompok masyarakakt, termasuk dari kelompok difabel, menunggu untuk berdialog. Sangat menyesal saya tak bisa mengikuti dialognya.
"Maaf Mbak Alisa, saya tak bisa ikut mengantar ke acara, mau menjemput istri," saya pamitan.
     "Oh, ya! Itu lebih penting!" katanya. Di perjalanan ke tempat kerja istri, ucapan Mbak Alisa beresonansi di telinga. Menjemput istri itu lebih penting. Langsung terbayang cerita tentang Kiai Sonhaji Jimbun, Jabres Sruweng, yang dikenal sebagai gurunya Gus Dur. Pengakuan Gus Dur bahwa Mbah Sonhaji itu gurunya saat berlangsung istighotsah akbar di Gelora Bung Karno.
Pertanyaannya, guru dalam hal apa? Masih di tengah jalan sepulang dari rumah Kang Tajib, resonansi itu memberkaskan file kecil dalam memori. Seorang bibi saya yang menjadi tetangga Kiai Sonhaji menceritakan kesaksiannya, sering melihat Kiai Sonhaji ke pasar Tengok belanja sayuran sendiri. Di mata bibi saya itu pemandangan aneh, mengesankan istrinya "kebangetan" membiarkan kiai yang sudah sepuh "kedangkrakan" ke pasar sendiri. 
     File lain pun terbuka, berkisah ketika seorang kiai yang hafal Al Quran sowan ke Kiai Sonhaji menanyakan silsilah Kiai Sonhaji. Jawab Kiai Sonhaji, "inna akramakum 'indallaahi atqaakum", sesungguhnya orang yang mulia bagi Allah itu ketakwaannya. Ayat itu diawali penegasan Allah bagaimana manusia diciptakan berjenis laki-laki dan perempuan dan menjadikan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. 
     Silaturahmi Mbak Alisa ke komunitas Gusdurian di Kebumen dan kesederhanaan sikap tidak memandang nasab sebagai hal yang harus diagung-agungkan begitu kentara. Itu sudah menggambarkan, bagian kecil dari ajaran Gus Dur telah dihayati putri sulungnya. Hidup sederhana dan menghormati istri rupanya juga yang diajarkan Kiai Sonhaji kepada Gus Dur, dan juga telah membentuk karakter putri Gus Dur. Setidaknya begitulah kesimpulan saya saat kembali berdiskusi dengan Kang Tajib. 
     "Coba itu ditulis saja Mas!" kata Kang Tajib. Maka jadilah cerita ini, dan semoga memberikan manfaat untuk siapa pun yang berkenan membacanya. Amiin! (Kholid Anwar)

Minggu, 05 Januari 2014

Hujan Batu Berlian di Negeri Sendiri

Adakah Hujan Emas di Negeri Orang?
PEPATAH lama mengatakan, daripada hujan emas di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Pesan moral orang-orang klasik yang telah melihat era globalisasi memang zaman edan yang membuat tiap individu tereliminasi dari habitat nyaman. Petuah para ustadz, kiai atau penghulu kepada pengantin baru menyebut, salah satu kebahagiaan rumah tangga jika nafkah atau pencaharian bisa diperoleh di kampung halaman sendiri. 
     Kampung halaman berarti tempat lahir dan tumbuh kembang keluarga seseorang. "Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda, tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata," kata syair Indonesia Pusaka. Kerinduan pada kampung halaman menghinggap siapa pun. Menjadi warga sebuah komunitas kampung merupakan kebutuhan akan eksistensi seseorang. 
Tapi memang masyarakat kosmopolitan berusaha menampik ikatan-ikatan sosial dalam komunitas tradisional. Bagi mereka kampung halaman hanyalah cerita. Hujan emas selalu ada di negeri impian yang harus dikejar. Kampung halaman hanyalah negeri dongeng, dan yang ada hanyalah hujan batu dan hujan air mata kesedihan. Karena di matanya mungkin hanya terlihat kemiskinan warga komunitasnya. Benarkah ia berada di negeri yang bisa mendatangkan hujan emas. Atau, jangan-jangan, hujan batu di negeri sendiri sebenarnya telah berubah menjadi "hujan batu berlian" namun ia tak bisa melihatnya? Sangat mungkin itu terjadi saat sayup-sayup lagu "Desaku" terdengar dari sudut apartemen mewah di kota metropolitan: "Desaku yang kucinta, pujaan hatiku. Tempat ayah dan bunda dan handai taulanku. Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai, selalu kurindukan desaku yang permai...."  Terbayang oleh seseorang itu, desa di matanya bertabur berlian, keindahan yang sangat bernilai di saat ia merasa teralienasi. 
      Usahanya mengumpulkan emas di negeri orang, kalau saja dirasakan telah sampai titik jenuh, pada akhirnya dirasakan layaknya mengejar fatamorgana. Kisah Siti Hajar berlarian dari bukit Sofa ke Marwah hingga tujuh kali untuk mengejar fatamorgana akhirnya mendapati air sumber kehidupan di padang tandus yang dikejarnya berada di bawah kaki Ismail anaknya.Itulah zamzam yang nilainya lebih tinggi dari batu berlian, dan hingga kini dijadikan rujukan orang yang berhaji. Jadi mengapa tidak mencari yang lebih berharga dari batu berlian di kampung halaman sendiri? (Kholid Anwar)