Jumat, 31 Januari 2014

Banyak Orang Gagal Menghadapi Cobaan Menyenangkan

Mengawali perubahan status
Teringat betul nasihat Kiai Khozaki alias KH Syaefudin Daldiri "panglima" Front Toriqatul Jihad (FTJ) dari Sidodadi Kuwarasan yang masih "kepernah" paman itu di Balai Wartawan paseban kulon alun-alun Kebumen usai oprasi miras tahun 2000-an. "Sing jeneng coba kuwe werna loro; siji coba sing nyengiti, loro coba sing nyenengna". Maksudnya adalah, cobaan hidup yang menjengkelkan justru lebih gampang dihadapi dan banyak orang yang lulus menjalani cobaan itu. Sedangkan cobaan yang menyenangkan hati, seperti halnya mendapatkan setumpuk uang yang tidak jelas asal-usulnya, hanya sedikit orang yang bisa lulus menghadapi ujian itu.
Persepsi berlebihan tentang kiai
Sebagai wartawan saat itu saya hendak konfirmasi atas berita mulai maraknya judi togel yang menginduk pada Kuis Siapa Berani Indosiar. Diperoleh keterangan dari koordinator lapangan FTJ, bandar togel yang berpusat di Gombong konon masih merugi. Maka kepada Kiai Khozaki itulah saya konfirmasikan masalah tersebut. "Apakah untuk menggerebek judi togel itu harus menunggu bandarnya untung banyak?". Nasihat itulah yang kemudian dijelaskannya, dan terus memberikan tanda tanya berkepanjangan setiap mendengar
Jamaah masjid punya persepsi sendiri-sendiri.
ada kiai di kampung-kampung yang memperoleh sumbangan dari politisi atau pejabat menjelang pemilu atau pasca-pemilu.
Di sisi lain, sepulang berhaji adik saya ngudarasa ingin membeli Tosa bekas untuk antar-jemput gabah. Sebelumnya untuk mendapat order penggilingan padi warisan orang tua ia terpaksa harus ngojek jemput dan antar gabah dengan sepeda motor karena harus bersaing dengan penggilingan padi keliling. Ternyata ia menghadapi masalah. Setelah disebut Kiai Haji, karena ia memang yang mendapat amanat untuk menjadi imam masjid di kampung itu, warga sungkan untuk "menyuruh" atau kirim SMS meminta untuk ngojek menggilingkan gabah. Untuk mempekerjakan orang lain, omset per harinya tak cukup layak memberikan bayaran, sehingga tetap harus ditangani sendiri sebagai buruh dari penggilingan padi sumber matapencaharian seorang kiai.
"Ya ini memang cobaan yang menjengkelkan, tapi sekaligus juga menggelikan. Jadi antara jengkel dan senang, menghadapinya gampang-gampang susah," komentar saya. Ia hanya bisa tersenyum getir menghadapi cobaan hidup dan tanggung jawab yang harus diemban membawa amanat orang tua. Yang jelas ini bukan cobaan menyenangkan sehingga tetap yakin bisa diatasi. Sebab, seperti nasihat Kiai Khozaki, banyak orang gagal saat menghadapi cobaan yang menyenangkan. (Kholid Anwar)

Selasa, 28 Januari 2014

Pilih Caleg Haruskah Shalat Istikharah?

Sedikit jengkel memang begitu pulang melihat stiker caleg DPRD Kebumen tertempel di pintu rumah. Siapa yang menempelkannya, anakku yang siang itu sudah di rumah mengaku tidak tahu. Maksudku sekadar ingin tahu, apakah saat menempelkan itu minta izin. Rasanya ingin serta merta stiker itu dilepas. Tapi setelah dicermati, ternyata gambar adik sendiri, Nurohman, anak paman, mantan kades Tunjungseto yang katanya disuruh nyaleg lewat PKB untuk Dapil 2.
Alasan dia maju antara lain agar Kecamatan Kutowinangun yang penduduknya banyak sudah lebih dari lima belas tahun tidak pernah punya wakil rakyat di DPRD Kebumen. Tapi di bawah stiker itu juga ada gambar teman sendiri, Mahrur Adam Maulana. Dicermati ternyata dosen IAINU Kebumen yang warga Kuwarisan Kutowinangun. Semboyannya juga agar Kutowinangun punya wakil, tidak kalah dari caleg dari kecamatan lain seperti Poncowarno, Alian, Karangsambung, dan Sadang.
Desaku tanpa caleg ya sudah seperti itu.
Itulah masalahnya. Dua caleg dari satu partai di satu kecamatan maju bareng. Bisa jadi perolehan suaranya kalah dari caleg separtai dari kecamatan lain dalam satu dapil. Masalah lainnya, dari dua caleg itu siapa yang harus dipilih. Apakah hukumnya wajib memilih wakil yang satu desa dan bahkan masih saudara? Sebab ada caleg lain yang "sudah berpengalaman" menjadi politisi PKB.
Ah, mungkin tak usah dipilih dua-duanya ya? Soalnya, tak mungkin kalau harus minta wuwur kepada keduanya. Atau sebaliknya, mereka berdua pasti tak akan berani ngasih wuwuran. Tinggal menghitung suara tokek lah. Karena rasanya sangat berlebihan jika hanya untuk memilih caleg pada 9 April 2014 nanti harus shalat istikharah, sekadar memilih satu di antara yang jelek-jelek. Mungkin seperti kebanyakan warga sedesa, ada atau tidak ada wakil di DPRD tak banyak berpengaruh pada tingkat kesejahteraan warga. (Kholid Anwar)

Urut Sewu, Tsunami dan Tambang Pasir Besi

Warga konsisten menolak tambang pasir besi

Masih dalam kebingungan bagaimana masalah tambang pasir besi di urut sewu mengancam benteng pertahanan kawasan pesisir selatan dari gempuran kemungkinan datangnya tsunami, tiba-tiba ada "wangsit" datang lewat SMS. Intinya, jika hendak menyelesaikan masalah tambang pasir besi, sowanlah ke seorang kiai yang menjadi kesepuhan di wilayah Kecamatan Ambal. Repotnya, untuk sowan ke sana harus mengajak pejabat teras di Pemkab Kebumen. Tentu ini sulit dilaksanakan karena masalah kebijakan tambang pasir besi itu otoritas pucuk pimpinan di Kebumen, dan peristiwa Gempa Kebumen bisa diartikan gempa politik jika kait mengait kejadian alam itu ditafsirkan lebih liar. Begitu pelik memang menyelesaikan masalah urut sewu, apalagi jika menyimak SURAT TERBUKA yang dirilis situs resmi PB NU di http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,49747-lang,id-c,nasional-t,Nahdliyin+Tuntut+TNI+AD+Hentikan+Pemagaran+Pesisir+Urut+Sewu-.phpx;

Nahdliyin Tuntut TNI AD Hentikan Pemagaran Pesisir Urut Sewu

Senin, 27/01/2014 17:39
Konflik tanah di Urutsewu, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) telah berlangsung sejak penggabungan desa 1920. Pada 1932 pemerintah Kolonial Belanda mengadakan klangsiran tanah yang membagi tanah berdasarkan nilai ekonomisnya, dengan tujuan akhir menetapkan pajak yang harus dibayar oleh masyarakat.
Penjajah Belanda mengklaim tanah pada jarak ± 150—200 m dari garis pantai sebagai milik Belanda. Masyarakat menyebutnya sebagai “Tanah Kompeni”, dan melawan Belanda untuk merebut kembali tanah-tanah ini. Pada 1937, Tentara Kolonial Belanda memakai pesisir Urutsewu sebagai arena latihan militer, dan dilanjutkan oleh Jepang pada 1942-5.

Maret-April 1998 Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) melakukan pemetaan sepihak dan melabeli area lapangan tembak dengan “Tanah TNI-AD”, dan meminta tandatangan dari kepala desa di kawasan Urutsewu. Belakangan tanda tangan ini dipakai oleh TNI-AD sebagai klaim pengalihan status kepemilikan tanah, sesuatu yang tidak pernah dibicarakan sebelumnya. Pada 2006, TNI kembali melakukan klaim lewat mekanisme tanah berasengaja yang dipakai untuk lapangan tembak. Dalam persepsi warga berasengaja adalah tanah yang sengaja di-bera-kan (tidak ditanami) dan digunakan sebagai penggembalaan ternak.

TNI AD meluaskan klaimnya menjadi 1000 m dari garis pantai pada 2007 dan meminta ganti rugi dalam proses pembangunan Jalan Jalur Lintas Selatan Pulau Jawa. Klaim TNI AD ini memicu perlawanan keras dari masyarakat dalam bentuk pencabutan patok radius 1000 m dari garis pantai. TNI AD mengancam warga terkait perlawanan ini. Belakangan, klaim “jarak 1000 m” TNI AD diakomodir dalam Draft Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Kebumen.

Pada 2008 Kodam IV Diponegoro mengeluarkan surat Persetujuan Pemanfaatan Tanah TNI AD di Kecamatan Mirit untuk Penambangan Pasir Besi kepada PT Mitra Niagatama Cemerlang (MNC). Artinya, TNI AD meneruskan klaimnya terhadap tanah di pesisir Urutsewu, sekaligus terlibat dalam bisnis pertambangan pasir besi. Hal terakhir ini diperkuat dengan terlibatnya salah seorang pensiunan TNI-AD sebagai komisaris PT MNC. Per Januari 2011, pemerintah mengeluarkan Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi kepada PT MNC selama 10 tahun, tanpa sosialisasi. Dalam surat ini dinyatakan bahwa luasan lahan yang akan ditambang adalah 591,07 ha dengan 317,48 ha diantaranya adalah tanah milik TNI AD.

Hal ini memicu reaksi keras dari warga yang disusul dengan penyerangan warga oleh TNI AD dan berujung pada 6 orang petani dikriminalisasi, 13 orang luka-luka, 6 orang diantara luka akibat tembakan peluru karet dan di dalam tubuh seorang petani lainnya bersarang peluru karet dan timah, 12 sepeda motor milik warga dirusak dan  beberapa barang, seperti handphone, kamera dan data digital dirampas oleh tentara. Tetapi pada Mei 2011, melalui surat Kodam IV Diponegoro, TNI AD mencabut persetujuan penambangan pasir besi yang telah diberikan kepada PT MNC.

Pada 2012, warga menolak pengesahan perda RTRW yang menjadikan Urutsewu sebagai kawasan pertambangan pasir besi dan area latihan dan uji coba senjata berat. Alternatif tuntutan warga adalah “jadikan Urutsewu hanya sebagai kawasan pertanian dan pariwisata”. Masih dalam fase yang sama, warga mengusir PT MNC dari Kecamatan Mirit, meskipun izin pertambangan belum dicabut sampai sekarang (Januari 2014).

Pada Desember 2013, TNI AD melakukan pemagaran dan sudah merambah 2 desa di Kecamatan Mirit, yaitu Desa Tlogodepok dan Mirit Petikusan. Meskipun sudah mendapatkan penolakan yang sangat keras dari masyarakat, tetapi TNI AD tetap melanjutkannya.

Karena itu, kami dari Front Nahdliyin Untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) dengan ini menuntut kepada Panglima TNI untuk :

1. Memerintahkan penghentian pemagaran di sepanjang pesisir Urutsewu, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jateng oleh TNI AD.

2. Memerintahkan untuk membersihkan semua material, baik yang sudah terpasang maupun belum terpasang dari lokasi pemagaran.

Mengingat mayoritas petani adalah Nahdliyin, kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, kami memohon perlindungan terhadap warga di Urutsewu sehubungan dengan konflik tanah yang berkepanjangan di daerah ini.

Dalam konteks yang lebih luas, mengingat tata kelola sumber daya alam (SDA) yang sebagain besar dikuasai oleh perusahaan asing dan maraknya konflik berbasis SDA di Indonesia dewasa ini, maka FNKSDA:

1. Menuntut Pemerintahan Republik Indonesia supaya menentukan sikap dan tindakan nyata dan sepadan terhadap usaha-usaha yang membahayakan KEDAULATAN NKRI MERDEKA dan AGAMA.

2. Menuntut Nahdlatul Ulama agar memerintahkan perjuangan “fi sabilillah” guna merebut penguasaan sumber daya alam demi tegaknya KEDAULATAN NKRI MERDEKA dan Agama Islam.

3. Menyerukan kepada semua warga Nahdliyin dan ummat Islam untuk mempertahankan tanah air dari rongrongan kapitalisme ekstraktif dengan merebut dan menasionalisasi penguasaan Sumber Daya Alam.
________
Front Nahdliyin Untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) adalah wadah koordinasi antara Jamaah NU yang memiliki kehirauan mengenai permasalahan konflik pengelolaan sumberdaya alam (SDA), seperti udara, air, tanah, dan segala yang terkandung di dalamnya, terutama yang terjadi di basis NU.

Kelahiran Front ini diawali oleh diskusi tematik bertajuk “NU dan Konflik Tata Kelola SDA” yang diadakan di Pendopo LKiS, Yogyakarta pada tanggal 4 Juli 2013 dengan pembahasan kasus di berbagai daerah di Indonesia. Diskusan sepakat untuk membentuk aliansi dengan tujuan menyiapkan media jaringan untuk kelancaran sirkulasi informasi dan kemudahan pengorganisasian serta mengarusutamakan tata kelola SDA di kalangan NU. (Red: Abdullah Alawi)

Senin, 27 Januari 2014

Wangsit Akan Ada Gempa Kebumen Lebih Dahsyat?

Memahami peristiwa gempa Kebumen dari pandangan rasional dan "ilmiah" mungkin bisa dengan cara menyimak publikasi berbagai analisis para pakar kegempaan. Di situs www.kompas.com misalnya, peristiwa gempa susulan skala 5,3 SR pada Senin pukul 23.14 menunjukkan bahwa gempa pertama pada Sabtu pukul 12.14 sebagai "gempa yang memicu" pergeseran lempeng tektonik menuju keseimbangannya. Hal tersirat dari informasi yang rasional itu adalah masih ada kemungkinan terjadi gempa yang lebih besar. Karena lokasi gempa pada kedalaman 33 km dan jaraknya juga mendekati daratan dari gempa sebelumnya 104 km menjadi 68 km. Maka hitungan rasionya jika ada gempa lagi dampaknya akan sangat dahsyat.
Di sisi lain, dari sudut pandang irasional tentang gempa itu datang dari sebuah SMS seorang yang terbiasa menjalin koneksi dengan sumber informasi irasional. Orang Jawa biasa menyebut wangsit, sebuah pesan dari para leluhur agar anak cucu yang masih hidup mau "eling lan waspada". Sebutlah ia dengan panggilan Ki Joko; "Kita diminta memperbanyak sejud dan bertafakur, ingat para leluhur, dan mau menyantuni alam," pesan Ki Joko.
Pesan irasional itu terasa gathuk dengan informasi lain dari sumber berbeda. Dari leluhur yang makamnya di wilayah Kecamatan Ambal menyampaikan isarat agar jangan berhenti berdoa; "Ya Allah, kami mohon agar keluarga, warga dan daerah kami aman. Amin amin amin ya rabbal 'alamin".  Ini perlu permenungan untuk menangkap maknanya. Sebab wangsit itu datang pasca-gempa pertama, saat sudah diketahui dampak gempa di daerah Kebumen tak separah daerah tetangga. 
Pesan para pakar kegempaan yang melihat peristiwa alam dari sudut rasional, warga di daerah Kebumen dan sekitarnya agar tetap waspada tapi tidak perlu panik dan ketakutan. Namun bagaimana warga tidak takut jika analisis ilmiah para pakar itu memang menakutkan? Menjawab ketakutan dengan banyak membaca doa tadi mungkin dianggap irasional. Tapi kalau hal irasional itu memang fungsional untuk mencipta ketenangan batin, tentu sangat baik untuk dilakukan dengan sepenuh kesadaran yang rasional. Semoga Allah mengabulkan doa kita; daerah Kebumen tetap aman. Amin! (Kholid Anwar)
 

Lagi, Gempa 5,3 SR Guncang Kebumen dan Sekitarnya

Senin, 27 Januari 2014 | 23:44 WIB

KEBUMEN, KOMPAS.com — Gempa kembali mengguncang Kebumen, Jawa Tengah, dan sekitarnya pada Senin (27/1/2014) sekitar pukul 23.14 WIB.

Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut berkekuatan 5,3 skala Richter (SR).
Pusat gempa di Samudra Hindia, sekitar 68 kilometer arah barat daya Kebumen, dengan kedalaman 33 kilometer.
Getaran gempa dilaporkan terasa hingga Kota Yogyakarta dan Bandung. Sejumlah pengguna akun Twitter melaporkan getaran tersebut.
Sebelumnya, gempa berkekuatan 6,5 SR berpusat di Samudra Hindia terjadi pada Sabtu (25/1/2014) pukul 12.14 WIB. Akibat gempa tersebut, puluhan bangunan ambruk di wilayah Banyumas, Cilacap, Kebumen, Purworejo, Magelang, dan sekitarnya. Gempa itu kemudian diikuti gempa susulan hingga enam kali.
Gempa dengan kekuatan lebih kecil, yakni dengan skala 4,7 SR berpusat di dekat pusat gempa pertama, menyusul pada Sabtu tengah malam pukul 23.58 WIB. Sejauh ini, tidak ada korban jiwa dari rangkaian gempa tersebut.(Tri Wahono)

Minggu, 26 Januari 2014

Tambang Pasir Besi dan Tsunami Ancaman Nyata Kebumen



Ancaman nyata tsunami di pantai selatan Kebumen telah dilontarkan para ilmuwan. Namun pemangku kekuasaan di wilayah ini seperti menutup telinga. Gumuk pasir di pesisir Mirit sampai Buluspesantren dalam waktu dekat akan ditambang untuk mengeruk pasir besi dari sana. Usaha keras masyarakat menolak penambangan pasir besi tak pernah berhenti. Tapi rupanya penguasa makin menggunakan tangan besi membungkam gerakan penolakan.
Kalau saja penguasa Kebumen tidak bebal, informasi dari para pakar itu tentu membuat mereka berpikir ulang; tambang pasir besi harus dihentikan, tak peduli apakah investor rugi karena sudah telanjur memberi fee atau mau kabur. Rakyat terutama yang berada di kawasan pesisir harus diselamatkan dari ancaman tsunami. Sebab gumuk pasir itu adalah benteng terbaik dampak tsunami jika suatu saat nanti tsunami melanda selatan Kebumen. Kini semakin tampak, kehadiran investor tambang pasir besi dan prediksi-prediksi para pakar kegempaan makin mempertegas, tambang pasir besi dan tsunami menjadi ancaman nyata Kebumen selatan. Masih mau menentang alam dan dengan sinis mengatakan, “Insya Allah aku sing ngerti karepmu’?” Mulailah bertafakur, dzikir kepada dzat yang menguasai alam, ingat pesan leluhur dan santuni alam, Insya Allah bencana itu datang bukan sebagai hukuman, namun sebagai pengingat agar manusia tidak makin tamak mengeksploitasi alam! (Kholid Anwar)

Gempa Kebumen Bisa Memicu Gempa Lebih Besar
KOMPAS.com - Segmen dimana pusat gempa Kebumen pada Sabtu (25/1/2014) terjadi sebenarnya segmen pendiam. Namun, kemarin, segmen itu seolah bersuara, menunjukkan bahwa dirinya "hidup".
Gempa mengguncang Kebumen kemarin pada pukul 12.14 WIB. Magnitud yang dihasilkan oleh si segmen pendiam sebesar 6,5. Dengan pusat gempa 40 km dari garis pantai dan pada kedalaman 88 km, gempa dirasakan oleh hampir seluruh warga Jawa.
Widjo Kongko, peneliti gempa dan tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengungkapkan, dalam radius 100 km dari pusat gempa kemarin, cuma ada 10 gempa bermagnitud lebih dari 5 dalam 4 dekade. Suara dari segmen pendiam itu adalah sinyal adanya bahaya."Gempa kemarin menunjukkan bahwa subduksi selatan Jawa masih aktif dan perlu selalu diwaspadai," ungkap Widjo kepada Kompas.com, Minggu (26/1/2014).
Subduksi, atau pertemuan antar dua lempeng, Jawa selama ini tak seaktif subduksi Sumatera. Namun, bukan berarti subduksi itu mati dan tak mampu menghasilkan gempa dan tsunami yang mematikan. Selain kemarin, subduksi Jawa pernah bergejolak pada tahun 1994 mengakibatkan gempa dan tsunami di Pacitan. Sementara, pada tahun 2006, tak lama setelah gempa Yogyakarta, subduksi Jawa juga memicu gempa dan tsunami di Pangandaran.
Irwan Meilano, pakar tektonik dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengungkapkan bahwa ancaman dari selatan Jawa tidak main-main. Selama ini, pakar tektonik membagi subduksi di selatan Jawa menjadi tiga bagian besar. Bagian pertama dari selat Sunda hingga selatan Jawa Barat. Bagian kedua adalah di selatan Jawa Tengah. Sementara, bagian ketiga adalah di selatan Jawa Timur hingga Bali. Kajian para ilmuwan menunjukkan bahwa masing-masing bagian bisa memicu gempa serta tsunami yang dapat berdampak merusak. "Masing-masing bisa menghasilkan gempa dengan magnitud 8,5," kata Irwan. Ancaman nyata dari selatan Jawa harus ditindaklanjuti oleh berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. "Jawa selatan masih gelap. Makanya perlu kajian lebih lanjut. Kita selama ini baru memetakan klustering gempa 2006 dan 1994 yang menimbulkan tsunami," kata Widjo. "Berbeda dengan Sumatera, kajian di wilayah ini masih jarang," imbuhnya. Edukasi kepada masyarakat harus ditingkatkan. Publik sendiri bisa berupaya membentengi diri dengan membangun rumah tahan gempa serta tidak berlokasi di dekat pantai untuk mengurangi risiko tsunami.(Yunanto Wiji Utomo)

Sabtu, 25 Januari 2014

Inikah Doa Peredam Gempa Kebumen?

Si ragil bingung mau menulis apa begitu ingin mejawab petanyaan bertubi-tubi dari grup BBM keluarga yang ada di Jakarta. Namanya GEMPA KEBUMEN, yang mereka bayangkan seperti saat GEMPA JOGJA dengan ribuan korban rumah roboh dan jiwa melayang. Jawab saja dengan doa yang dikirim dari SMS Bu Dhe;"Ya Allah, kami mohon agar keluarga, warga, dan daerah kami aman. Amin ya rabbal 'alamin".
Rasanya doa itu yang oleh seorang atau beberapa orang telah dipanjatkan dengan ketulusan hati mendalam, pada malam Jumat sebelum terjadi gempa. Fakta yang ada, kerusakan yang terjadi di Kebumen tercatat lebih sedikit dibanding daerah tetangga, mulai Cilacap, Banyumas, Magelang, dan Jogja. 
http://regional.kompas.com/read/2014/01/26/0151418/Di.Kebumen.3.Rumah.Rusak.Berat.akibat.Gempa.
Itu membuat satu keyakinan yang menguat pada kekuatan doa, dan ashadaqatu li daf'il bala'. Sedekah yang tulus, seperti tangan kanan memberi tangan kiri tidak tahu, adalah kekuatan dahsyat untuk menangkal bencana. Seorang teman mengaku, pada malam Jumat sebelumnya mengantar seorang "kesepuhan" ke Pantai Petanahan. Di sana beliau meletakkan sesuatu benda yang tak tahu itu apa. Selang beberapa menit datang gelombang besar dan menghanyutkan benda tersebut. Sebuah amal yang tak diketahui siapa pun, selain yang bersangkutan.
"Itu maksudnya mungkin ya meminta kepada Allah atas keselamatan warga dan daerah Kebumen," kata teman itu. Saya menanyakan lebih jauh kepada teman itu. Apakah prosesi berdoa dengan cara melemparkan benda-benda ke laut itu merujuk pada peristiwa Nabi Musa memukulkan tongkat ke laut dan air membelah menjadi daratan? "Ya mungkin begitu," ujar teman tadi.  

Maka membaca berita bagaimana sebuah masjid ambruk ini, makin dalam permenungan makna doa dan shadaqah yang bisa menangkal bencana. Atau memang sebenarnya ada prosesi doa yang mampu menjadi peredam gempa. Wallaahu a'lam bish shawab....! (Kholid Anwar)


Masjid pun Roboh
SindoNews.com- Masjid AT Taqwa di Desa Kranggan, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas roboh setelah diguncang gempa berkekuatan 6,5 SR. Beruntung tidak ada korban jiwa dari robohnya masjid itu. Namun, masjid besar tersebut menimpa sebuah rumah milik warga hingga rata tanah. Palupi, warga setempat mengaku bersama keluarganya langsung keluar rumah setelah merasakan guncangan gempa cukup kuat.
Beruntung Palupi dan keluarga telah berada di luar, tiba-tiba masjid yang berada di sebelah rumahnya perlahan roboh."Di dalam masjid kebetulan tidak ada orang," tutur Palupi bersyukur, Sabtu (25/1/2014).
Seperti diketahui, gempa berpusat 104 kilometer barat daya Kebumen - Jawa Tengah, dengan kedalaman 48 kilometer itu dirasakan cukup kuat. Tidak hanya di daerah di Jawa Tengah, gempa itu juga dirasakan warga di Jawa Barat, seperti Bandung, Garut dan Cimahi.
United States Geological Survey (USGS) menyebutkan, guncangan gempa Kebumen tersebut berintensitas VI MMI atau kuat dan strong yang dapat merusak bangunan. Sehingga bisa dipastikan, akan banyak bangunan rusak maupun roboh. BNPB masih melakukan koordinasi dengan BPBD di daerah, sementara ini dilaporkan baru satu roboh dan beberapa rumah rusak terjadi di Desa Krandengan, Kecamatan Bacan Purworejo.

Senin, 20 Januari 2014

Tiga Peristiwa "Besar" di Halaman Kebumen

Puas rasanya membaca kliping berita Kebumen di Suara Merdeka 20 Januari 2014 halaman Kebumen 23. Setidaknya ada tiga hal "besar" di sana. Batu "sebesar" rumah longsor dari ketinggian bukit 100 meter di Desa Sidoagung Kecamatan Sruweng sampai menutup akses jalan desa dan warga kebingungan bagaimana cara menyingkirkan batu yang jika dipecah menghasilkan 100 truk batu belah. Hal "besar" kedua, sampah di Kebumen mencapai 80 ton per hari, dan hendak diolah oleh investor PT Asia Elang Jaya dari Jakarta untuk dibuat energi biosolar dan pupuk organik. Survei sudah dilaksanakan dan memaparkan rencana investasi Rp 60 miliar untuk bisa mengolah 50 ton per hari. Masih tersisa 30 ton per hari, yang menurut Kepala
Bidang Penanaman Modal pada Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Kabupaten Kebumen Bambang Hariyanto, investor lain bisa memanfaatkan potensi tersebut. Jika saja hal itu nanti terealisasi, jelas merupakan "peristiwa besar" bagi daerah ini yang mampu mengolah sampah menjadi komoditas berharga.
      Lalu hal "besar" kedua, Polsek Petanahan menggerebek tempat judi togel Hongkong di rumah Mardiyo di Desa Karangrejo. Meskipun barang bukti yang disita hanya uang "kecil" Rp 247.000 dan balpoin kecil, dua lembar rekap angka togel, selembar kertas karbon, itu semua bermakna "besar" karena keberanian polisi membersihkan perjudian dari wilayah Kebumen Beriman yang merupakan "penyakit masyarakat".
      Apalagi jika melihat 1740 anak-anak kecil menyimak Bambang Bimo Suryono alias Kak Bimo dari Jogja mendongeng di Gedung Serbaguna Muslimat NU, mereka jelas terpana oleh kisah teladan
Nabi Besar Muhammad SAW. Anak-anak dari TK dan Raudhatul Atfal itu tengah membangun cita-cita besar menjadi orang besar. Jika di wilayah Kebumen yang Beriman kok masih terus ada togel, langsung atau tidak langsung bisa berpengaruh buruk bagi jiwa bersih anak-anak.
      Jadi, jika nanti sampah-sampah yang menggunung telah diolah menjadi barang bermanfaat, penyakit masyarakat disikat bersih, Insya Allah, sandungan batu sebesar rumah pun akan bisa disingkirkan untuk melapangkan tumbuh kembang jiwa-jiwa yang bersih dari anak-anak tunas bangsa berbalut iman. Amin! (Kholid Anwar)