Si ragil bingung mau menulis apa begitu ingin mejawab petanyaan bertubi-tubi dari grup BBM keluarga yang ada di Jakarta. Namanya GEMPA KEBUMEN, yang mereka bayangkan seperti saat GEMPA JOGJA dengan ribuan korban rumah roboh dan jiwa melayang. Jawab saja dengan doa yang dikirim dari SMS Bu Dhe;"Ya Allah, kami mohon agar keluarga,
warga, dan daerah kami aman. Amin ya rabbal 'alamin".
Rasanya doa itu yang oleh seorang atau beberapa orang telah dipanjatkan dengan ketulusan hati mendalam, pada malam Jumat sebelum terjadi gempa. Fakta yang ada, kerusakan yang terjadi di Kebumen tercatat lebih sedikit dibanding daerah tetangga, mulai Cilacap, Banyumas, Magelang, dan Jogja.
http://regional.kompas.com/read/2014/01/26/0151418/Di.Kebumen.3.Rumah.Rusak.Berat.akibat.Gempa.
Itu membuat satu keyakinan yang menguat pada kekuatan doa, dan ashadaqatu li daf'il bala'. Sedekah yang tulus, seperti tangan kanan memberi tangan kiri tidak tahu, adalah kekuatan dahsyat untuk menangkal bencana. Seorang teman mengaku, pada malam Jumat sebelumnya mengantar seorang "kesepuhan" ke Pantai Petanahan. Di sana beliau meletakkan sesuatu benda yang tak tahu itu apa. Selang beberapa menit datang gelombang besar dan menghanyutkan benda tersebut. Sebuah amal yang tak diketahui siapa pun, selain yang bersangkutan.
"Itu maksudnya mungkin ya meminta kepada Allah atas keselamatan warga dan daerah Kebumen," kata teman itu. Saya menanyakan lebih jauh kepada teman itu. Apakah prosesi berdoa dengan cara melemparkan benda-benda ke laut itu merujuk pada peristiwa Nabi Musa memukulkan tongkat ke laut dan air membelah menjadi daratan? "Ya mungkin begitu," ujar teman tadi.
Maka membaca berita bagaimana sebuah masjid ambruk ini, makin dalam permenungan makna doa dan shadaqah yang bisa menangkal bencana. Atau memang sebenarnya ada prosesi doa yang mampu menjadi peredam gempa. Wallaahu a'lam bish shawab....! (Kholid Anwar)
Masjid pun Roboh
SindoNews.com- Masjid AT Taqwa di Desa Kranggan, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas roboh setelah diguncang gempa berkekuatan 6,5 SR. Beruntung
tidak ada korban jiwa dari robohnya masjid itu. Namun, masjid besar
tersebut menimpa sebuah rumah milik warga hingga rata tanah. Palupi, warga setempat mengaku bersama keluarganya langsung keluar rumah setelah merasakan guncangan gempa cukup kuat.
Beruntung Palupi dan keluarga telah berada di luar, tiba-tiba masjid yang berada di sebelah rumahnya perlahan roboh."Di dalam masjid kebetulan tidak ada orang," tutur Palupi bersyukur, Sabtu (25/1/2014).
Seperti
diketahui, gempa berpusat 104 kilometer barat daya Kebumen - Jawa
Tengah, dengan kedalaman 48 kilometer itu dirasakan cukup kuat. Tidak hanya di daerah di Jawa Tengah, gempa itu juga dirasakan warga di Jawa Barat, seperti Bandung, Garut dan Cimahi.
United
States Geological Survey (USGS) menyebutkan, guncangan gempa Kebumen
tersebut berintensitas VI MMI atau kuat dan strong yang dapat merusak
bangunan. Sehingga bisa dipastikan, akan banyak bangunan rusak
maupun roboh. BNPB masih melakukan koordinasi dengan BPBD di daerah,
sementara ini dilaporkan baru satu roboh dan beberapa rumah rusak
terjadi di Desa Krandengan, Kecamatan Bacan Purworejo.
Sabtu, 25 Januari 2014
Senin, 20 Januari 2014
Tiga Peristiwa "Besar" di Halaman Kebumen
Puas rasanya membaca kliping berita Kebumen di Suara Merdeka 20 Januari 2014 halaman Kebumen 23. Setidaknya ada tiga hal "besar" di sana. Batu "sebesar" rumah longsor dari ketinggian bukit 100 meter di Desa Sidoagung Kecamatan Sruweng sampai menutup akses jalan desa dan warga kebingungan bagaimana cara menyingkirkan batu yang jika dipecah menghasilkan 100 truk batu belah.
Hal "besar" kedua, sampah di Kebumen mencapai 80 ton per hari, dan hendak diolah oleh investor PT Asia Elang Jaya dari Jakarta untuk dibuat energi biosolar dan pupuk organik. Survei sudah dilaksanakan dan memaparkan rencana investasi Rp 60 miliar untuk bisa mengolah 50 ton per hari. Masih tersisa 30 ton per hari, yang menurut Kepala
Bidang Penanaman Modal pada Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Kabupaten Kebumen Bambang Hariyanto, investor lain bisa memanfaatkan potensi tersebut. Jika saja hal itu nanti terealisasi, jelas merupakan "peristiwa besar" bagi daerah ini yang mampu mengolah sampah menjadi komoditas berharga.
Lalu hal "besar" kedua, Polsek Petanahan menggerebek tempat judi togel Hongkong di rumah Mardiyo di Desa Karangrejo. Meskipun barang bukti yang disita hanya uang "kecil" Rp 247.000 dan balpoin kecil, dua lembar rekap angka togel, selembar kertas karbon, itu semua bermakna "besar" karena keberanian polisi membersihkan perjudian dari wilayah Kebumen Beriman yang merupakan "penyakit masyarakat".
Apalagi jika melihat 1740 anak-anak kecil menyimak Bambang Bimo Suryono alias Kak Bimo dari Jogja mendongeng di Gedung Serbaguna Muslimat NU, mereka jelas terpana oleh kisah teladan
Nabi Besar Muhammad SAW. Anak-anak dari TK dan Raudhatul Atfal itu tengah membangun cita-cita besar menjadi orang besar. Jika di wilayah Kebumen yang Beriman kok masih terus ada togel, langsung atau tidak langsung bisa berpengaruh buruk bagi jiwa bersih anak-anak.
Jadi, jika nanti sampah-sampah yang menggunung telah diolah menjadi barang bermanfaat, penyakit masyarakat disikat bersih, Insya Allah, sandungan batu sebesar rumah pun akan bisa disingkirkan untuk melapangkan tumbuh kembang jiwa-jiwa yang bersih dari anak-anak tunas bangsa berbalut iman. Amin! (Kholid Anwar)
Hal "besar" kedua, sampah di Kebumen mencapai 80 ton per hari, dan hendak diolah oleh investor PT Asia Elang Jaya dari Jakarta untuk dibuat energi biosolar dan pupuk organik. Survei sudah dilaksanakan dan memaparkan rencana investasi Rp 60 miliar untuk bisa mengolah 50 ton per hari. Masih tersisa 30 ton per hari, yang menurut Kepala Bidang Penanaman Modal pada Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Kabupaten Kebumen Bambang Hariyanto, investor lain bisa memanfaatkan potensi tersebut. Jika saja hal itu nanti terealisasi, jelas merupakan "peristiwa besar" bagi daerah ini yang mampu mengolah sampah menjadi komoditas berharga.
Lalu hal "besar" kedua, Polsek Petanahan menggerebek tempat judi togel Hongkong di rumah Mardiyo di Desa Karangrejo. Meskipun barang bukti yang disita hanya uang "kecil" Rp 247.000 dan balpoin kecil, dua lembar rekap angka togel, selembar kertas karbon, itu semua bermakna "besar" karena keberanian polisi membersihkan perjudian dari wilayah Kebumen Beriman yang merupakan "penyakit masyarakat".
Apalagi jika melihat 1740 anak-anak kecil menyimak Bambang Bimo Suryono alias Kak Bimo dari Jogja mendongeng di Gedung Serbaguna Muslimat NU, mereka jelas terpana oleh kisah teladan
Jadi, jika nanti sampah-sampah yang menggunung telah diolah menjadi barang bermanfaat, penyakit masyarakat disikat bersih, Insya Allah, sandungan batu sebesar rumah pun akan bisa disingkirkan untuk melapangkan tumbuh kembang jiwa-jiwa yang bersih dari anak-anak tunas bangsa berbalut iman. Amin! (Kholid Anwar)
Sabtu, 18 Januari 2014
Antara Berhaji untuk Korupsi dan Korupsi untuk Berhaji
Tulisan yang termuat di Suara Merdeka 1 Desember 2006 ini terasa perlu dibaca ulang untuk pengingat diri sendiri. Sungguh berat syarat memperoleh predikat haji yang mabrur, di tengah fakta kebanyakan koruptor yang telah ditangkap KPK berpredikat haji. (http://blandringbook.wordpress.com/2006/12/25/telah-terbit-buku-haji-tanpa-korupsi/)
Haji, Ritual Antikorupsi
- Oleh Kholid Anwar
PEMBERANGKATAN jamaah haji tahun 1427 H dari Tanah Air ke Tanah
Suci dimulai 28 November 2006. Ini sudah seperti prosesi ritual, dan sekaligus
hajat besar bagi pihak penyelenggara ibadah haji untuk memberikan pelayanan
terhadap sekitar 200 ribuan umat muslim dari Indonesia menunaikan rukun
Islam kelima.
Namun belakangan prosesi ibadah suci itu dikaitkan dengan isu-isu pemberantasan
korupsi. Terutama setelah mantan Menteri Agama Said Agil Husain Al Munawar
dipenjara karena terlibat kasus korupsi dana haji. Masyarakat awam sering mempertanyakan, bagaimana dengan para pejabat lain, di tingkat pusat sampai daerah, dalam mengurusi penyelenggaraan ibadah haji apakah tidak terlibat korupsi ? Terhadap orang yang hendak berhaji pun dipertanyakan, apakah biayanya untuk berhaji tidak tercampur dengan uang hasil korupsi ? Bukan hanya terhadap pejabat pemerintah yang berangkat haji atas biaya dinas dan sering disebut haji abidin. Terhadap jemaah haji lain pun dikiritisi, apakah penghasilannya didapat dengan cara yang tidak jujur dan merampas hak orang lain ? Apakah biaya ONH orang yang berhaji sudah terbebas dari unsur-unsur "berbau korupsi" ?
Di era kebebasan informasi, gugatan semacam itu tidak lagi bisa dijawab dengan apologi, bahwa tidaklah baik berburuk sangka terhadap orang yang akan berhaji. Mereka sudah punya niat suci, doakan saja semoga menjadi haji mabrur.
Memang tidak etis mencurigai orang berhaji dengan asumsi seolah kebanyakan di antara mereka tidak bisa terlepas dari perilaku berbau korupsi. Namun suatu introspeksi diri, dan terus-menerus melakukan koreksi atas apa yang telah dan akan dikerjakan terkait dengan nilai-nilai ibadah haji, kiranya bisa dijadikan awal menjawab asumsi seperti itu.
Hindari Salah
Bukankah ibadah haji sarat nilai ibadah yang kemanfaatannya bukan semata bagi orang per orang yang berhaji, namun juga secara sosial mampu memberikan kemaslahatan umat ? Pada manasik haji tersimpan ajaran penuh simbol.
Pada saat seseorang punya rencana berhaji sudah harus berpikir dari mana biaya diperoleh secara halal. Mau berangkat meminta maaf atas segala kesalahan kepada sesama. Ketika sampai di Tanah Suci mengenakan pakaian ihram, niat berumrah dulu atau berhaji, sudah harus menghindari berbuat salah melanggar aturan berihram.
Dalam melaksanakan wajib haji dan rukun haji, apakah sudah sesuai prosedur atau ada yang dilanggar dan dikurangi, harus diketahui dengan kejujuran hati oleh orang yang berhaji. Semua jamaah haji tentu sudah bertekad untuk menghindari berbuat salah saat melaksanakan manasik haji. Hanya saja, berbuat salah bisa karena kesengajaan, ketidaktahuan, atau kelalaian.
Karena itulah, untuk terhindar dari salah, orang berhaji perlu melakukan introspeksi terus -menerus. Jika misalnya ONH menggunakan dana hasil korupsi, atau setidaknya tercampur dengan uang yang dapat dikategorikan hasil korupsi, bisa-bisa nanti memperoleh predikat haji korupsi. Ketika memulai melaksanakan prosesi ibadah haji ada rukun atau wajib haji yang dikurangi secara tidak sah, bisa dimaknai korupsi haji.
Mengambil hikmah dari setiap aktivitas ketika melaksanakan manasik haji untuk kemudian dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari sepulang naik haji merupakan harapan jika telah berhasil melakukan introspeksi. Kiranya, dari introspeksi itulah seseorang bisa menggapai kemabruran haji, dan sepulang berhaji tetap mampu menjaga kemabrurannya.
Ritual Antikorupsi
Inti ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Sedangkan ritual yang tidak boleh ditinggalkan adalah mengenakan pakaian ihram yang sering dianggap sebagai prosesi yang memberatkan. Kalau mau meresapi makna mengenakan pakaian ihram sebagai suatu bentuk pengekangan diri dari segala nafsu yang bersifat duniawi, tentu segala larangan ketika berihram bukanlah beban berat.
Para pembimbing haji selalu mengingatkan, saat orang sudah mengenakan pakaian ihram harus sudah menghindari larangan berlaku fusuk (berkata-kata kotor), rafats (berbuat kerusakan), dan jidal (berbantah-bantahan), sebagaimana tercantum dalam Surat Al Baqarah 197. Tiga hal itu merupakan larangan ketika mengenakan pakaian ihram, mes-kipun di luar itu pun tetap dilarang.
Sedangkan perbuatan halal seperti memotong kuku, memotong rambut, mengenakan wewangian, berhubungan intim suami istri, menikah atau menikahkan, menjadi larangan ihram dapat dimaknai sebagai bentuk ritual pengekangan diri dari nafsu-nafsu yang bersifat duniawi.
Semakin lama orang mampu berihram akan mencerminkan kesanggupannya menghindari perbuatan munkar.
Bukan hanya pada saat dia berhaji, namun selepas itu perilaku berihram dapat lebih membekas. Kenikmatan berihram dapat dirasakan ketika seseorang terus-menerus berikhtiar secara batiniah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Perbuatan korupsi, seperti digambarkan Robert Klifgaard (2001), menyangkut semua tingkah laku yang menyimpang atau melanggar aturan pelaksanaan beberapa tingkah laku pribadi. Kata korupsi berasal dari corrupt, bermakna menimbulkan serangkaian gambaran jahat menyangkut apa saja yang merusak keutuhan, termasuk nilai moral.
Ihram mengajarkan orang untuk taat aturan, jika ada yang dilanggar wajib membayar denda atau dam. Di dalamnya mengandung nilai ketaatan total. Sekali pun orang lain tidak tahu, orang berihram senantiasa sadar Allah mengetahuinya. Dirinya selalu merasa tidak ada gunanya menutup kesalahan dengan bermacam alasan yang manipulatif. Dia sedang menjauhi apa yang diharamkan Allah, dari tindakan bersifat koruptif yang nyata ataupun yang sangat tersamar.
Sering disampaikan para ulama, pintu mendekatkan diri kepada Allah adalah perasaan tidak memiliki apa-apa. Saat orang berihram, di tubuhnya tak ada wewangian, bau badan tercium apa adanya tanpa manipulasi. Ketika yang dikenakan hanyalah dua lembar kain putih, maka perasaan tidak memiliki kemampuan, tidak memiliki kedudukan dan jabatan, tidak memiliki tempat bergantung, akan lebih mudah tumbuh dalam hati. Ritual seperti itu yang dihayati mendalam dengan sendirinya sudah menumbuhkan sikap antikorupsi dalam berbagai bentuk.
Bahwa akhirnya, hanya Allah yang memiliki segalanya, dan karenanya betapa seseorang yang hanya mengenakan pakaian ihram sangat membutuhkan pertolongan Allah. Keserakahan yang menjadi pendorong utama tindakan korupsi, hilang dengan sendirinya. Perasaan seperti itu kemudian dengan mudah direfleksikan dalam sikap selalu membesarkan dan mengagungkan Allah. Pembuktian sikap melalui ketaatan pada perintah Allah dan menghindari perbuatan munkar yang dilarang Allah.
Meraih Predikat Saleh
Sayangnya, diakui atau tidak, orang yang telah menjalani ritual antikorupsi belum terjamin perilakunya di kemudian hari terbebas dari perilaku koruptif. Haji sering dijadikan simbol kesempurnaan seseorang menjadi muslim, menempati status sosial terhormat, dan dikonotasikan berada pada tingkat kesalehan yang lebih. Namun dengan kian banyaknya fakta orang-orang yang sudah naik haji tapi kok belakangan diketahui terlibat kasus korupsi atau memperlihatkan perilaku yang tidak terpuji, penilaian pun berubah menjadi ironi.
Ada ungkapan sindiran yang terkesan hanya guyon anak-anak tentang predikat haji. Misalnya jipat turi akronim dari kaji mlumpat kethune keri. Ungkapan asosiatif dalam bahasa Jawa seperti itu bisa berarti seorang yang sudah naik haji tiba-tiba meloncat ke jalur tingkah laku lain dengan menanggalkan kesucian hati dan pikiran yang disimbolkan kethu atau kopiah putih. Atau, dalam ungkapan yang mengandung sarkasme, pak kaji nyolong dhendheng yang berkonotasi ada perilaku seorang haji yang mencuri hal-hal berbau busuk seperti daging yang sudah dikeringkan menjadi dhendheng.
Pada sebagian masyarakat tertanam pemahaman, ciri haji yang mabrur jika sepulang naik haji perilakunya terlihat saleh, rajin beribadah, lebih dermawan, dan berbagai sikap baik lain.
Predikat saleh harus diraih dan dijaga oleh orang yang sudah berhaji. Jika yang diperlihatkan perilaku sebaliknya, kemabrurannya diragukan. Apalagi dengan banyaknya tersangka korupsi justru dari mereka yang berpredikat haji. Masalahnya ada pada jemaah haji, apakah banyak hal dalam prosesi ritual ibadah haji dikerjakan secara tidak jujur. Itu yang akan menjadi benih manipulasi dan korupsi yang terefleksi pada perilaku keseharian sepulang berhaji.
Memang, kemabruran haji tidak ditentukan oleh penilaian masyarakat atau orang lain. Kemampuan berikhtiar untuk dapat maksimal mengikuti manasik haji secara baik akan menuntun ke arah haji mabrur. Karena itulah introspeksi diri bagi orang yang akan dan sudah melaksanakan ibadah haji menjadi kekuatan besar untuk menghindar dari perbuatan-perbuatan "korupsi" dalam berbagai segi dan bentuknya karena kejujuran hati menjadi kunci terhindar dari tindakan manipulasi. Semoga Allah SWT memberikan ijabah atas doa dari hati suci orang-orang yang berhaji. (11)
--- Kholid Anwar, penulis buku Haji Tanpa Korupsi, aktivis kemasyarakatan
Ahli Bid'ah, Enjoy Sajalah!
Undangan +Akhmad Murtajib untuk mengikuti pengajian (+Ngobrol) Muludan komunitas Difa Kebumen bertema "Akhlak Nabi Muhammad SAW terhadap Wong Difabel", bersama Gus Muad Baihaqi, Pekeyongan di musala Al Furqan Kembaran timur Mapolres Kebumen, Sabtu siang (18/1) menarik untuk diikuti. Eh, selang sejam lebih acara dimulai sejak Kang Tajib mempertegas maksud tujuan kegiatan untuk menyadarkan pengertian bahwa Nabi Muhammad seorang yang sangat menghargai orang yang berkebutuhan khusus, Gus Muad batal hadir. Lha kok malah Mbak Iin memaksa saya ikut memberi sambutan. Ya sudah, yang penting menyampaikan apa yang diketahui. Pada saat Nabi Muhammad memberikan peringatan siapa saja yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir tapi tidak menghormati tetangga, bisa jadi dia memang bukan termasuk orang beriman.
Terus semulia-mulia orang di sisi Allah, adalah orang yang taqwa. Itu artinya, kalau ketaatan kepada aturan yang sudah digariskan Nabi dipatuhi, termasuk patuh pada aturan hidup bertetangga, orang itu pasti terlihat mulia di mata tetangga dan Insya Allah sudah mulia di mata Allah.
Selesai potong tumpeng dan acara selesai, Romo Vidi dari Gereja Katholik Kebumen yang mengikuti acara itu sempat gendu-gendu rasa. Pembacaan Barzanji yang dimaksudkan merefleksikan kembali akhlak mulia Nabi Muhammad itu oleh sekelompok orang Islam lain dianggap bid'ah karena amalan itu tak penah dilakukan oleh Nabi Muhammad. Di Katholik, kata Romo, juga ada kelompok yang menolak praktik keagamaan yang tidak pernah ada semasa hidup Nabi Isa. Ada aliran agama yang menolak tradisi dan menganggap hal itu bid'ah. Jadi, memang ada titik persamaan praktik beragama dari kelompok yang melestarikan tradisi dan yang menolak tradisi dalam Islam dan Katholik. Maka kalau belakangan makin gencar saja kelompok yang menyerang kelompok lain sebagai ahli bid'ah, ya enjoy saja lah. Gitu aja repot! (Kholid Anwar)
Selasa, 14 Januari 2014
RSUD Kebumen Dipaksa Boyong, Pasien Tambah Lara Ya Men!
| Maket gedung baru RSUD Kebumen sing mewah alias mepet sawah |
| Sawah bermasalah nang latare gedung anyar RSUD |
Ngepasi tanggal abang dina libur peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW 14 Januari 2014, kabeh karyawan lan dokter karo jajaran direksi keton pada kemetig nganakna slametan. Nang ruang ngarepan panggonan tunggu pasien dianakna doa bersama, dipimpin Pak Kiai sing ngawiti niat nyuwun slamet olihe boyongan. Mergane, mungguh Pak Kiai, arep miwiti mbangun yang apike dikanteni donga nyuwun slamet. Lha apamaning arep manggon nang panggonan anyar. Mulane ya kudu dongga nganggo wacan asma'ul husna.
| Pelayanan UGD tesih nang RSUD lawas |
Nang sandinge wong sing ndonga, petugas liya keton tesih sliweran ngangkuti barang-barang boyongan sekang gedung RSUD lawas cedek stasiun sepur Kebumen. Panggonan lawas kuwe sikine ya tesih dinggo nglayani pasien rawat inap. Tumrape para petugas kesehatan, boyongan kiye pancen mbingungi. Rencanane sasi Mei olihe pindahan. Jebul ana prentah ndadak, tanggal 15 Januari kudu wis boyong.
| Tesih ngotong-otong abrag-abrag |
Pokoke ya ribet lah. Apamaning nek ndeleng kesiapan panggonan saben-saben poli. Contone poli gigi, pasien arep nembel untu ya kudu sabar disit. Mergane alat-alat sing kudu dipasang mbutuhna wektu suwe. Pasien sing butuh fisioterapi alate yang durung bisa murub merga listrike durung stabil.
Kondisi listrik sing durung stabil kuwe, ngasi wingi urube tesih kedip-kedip. Lha nek perlatan kesehatan sing regane atusan juta
| Didongani nganggo Asmaul Husna |
Sabtu, 11 Januari 2014
Perda Dodolan Ayat Suci Disahkan DPRD Kebumen?
![]() | ||
| Si Ragil ora ana perda ya wis katam quran |
Nah tanggal 23 Januari diagendakan
rapat paripurna penyampaian pandangan umum fraksi maring patang Raperda mau. Terus tanggal 27 Januari gantian Bupati nanggapi pandangan umum fraksi. Bar kuwe Bupati uga njelasna persetujuan dari Menteri Keuangan RI dan Gubernur
Jawa Tengah, ngenani Perda tentang retribusi pengolahan limbah cair, sing terus bisa ditetapkan. Nang dina kuwe uga dibabarna tanggapan dan jawaban fraksi terhadap Raperda tentang
penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran baca tulis
Al-quran.
| Pak Mahfudz dialog nang Bandung Kebumen |
Persis kaya pengendikane Pak Mahfudz MD nalika silaturahmi nang Pondok Pesantren Nurul Hidayah Desa Bandung Kecamatan Kebumen pungkasan Desember mekiki, status perda kuwe hukume nang ngisore undang-undang. Nek secara undang-undang kok bertentangan, Mahkamah Agung bisa mbatalna. Seumpama sing diatur masalah syariat atau agama Islam, kaya ta masalah zakat apa soal pengajaran Al Quran, terus MA nganggep perda kuwe bertentangan dengan Undang-Undang yang berlaku di NKRI, apa enggane ora blai. Ana ajaran Al Quran kok dibatalna nang menungsa. Ya umat Islam nlangsa lah.
Pak Mahfudz sing siki wis dadi manten ketua Mahkamah Konstitusi kuwe ngendika masalah perda berbasis agama, kaya perda penyelenggaraan pendidikan dan pembalajaran baca tulis Al Quran nang Kebumen mergane dikompori nang Kang Tajib, aktivis LSM penggerak Gusdurian, sing prinsipe ora setuju masalah agama kudu diatur nang negara. Dadi pancen aneh nek ana fraksi ngomonge penerus cita-cita Gus Dur, ning kok setuju anane perda tentang pendidikan Al Quran sing mengko tiba mburine dudu kepriben carane bocah-bocah berperilaku qur'any. Nanging kaya sing uwis-uwis buntute ya mung rebutan proyek. Buktine, proyek pengadaan Al Quran bae ya dikorupsi. Nek kaya kuwe dadine ya dodolan ayat suci. Ora nekakna manfangat, ning malah olih laknat Allah. Na'udzubillahi min dzaalik! (Kholid Anwar)
Langganan:
Postingan (Atom)

